Wednesday, March 9, 2016

Cat Mengelupas dan Besi Karatan di Stadion Hang Day

Pelatih tim nasional Indonesia, Alfred Riedl, mengeluhkan keadaan lapangan Stadion Hang Day, Hanoi, tempat bakal berlangsungnya pertandingan melawan Laos, Jumat (28/11/2014).

Keluhan Riedl bukanlah tanpa ada argumen. Dari pantauan Kompas. com, Stadion Hang Day memanglah tampak lumayan jelek untuk mengadakan turnamen berskala internasional.

Berkapasitas 22. 000 kursi pemirsa, sekilas bila diliat dari luar, Stadion Hang Day sebagaimana tak tertangani. Di segi luar barat & timur stadion, segera bertemu bersama jalan raya.

Masuk kedalam stadion, ada lintasan atletik memiliki bahan basic karet. Sesaat untuk tribun, cuma dibagian barat & timur yang dapat menyimpan pemirsa lumayan banyak. Tribun selatan & utara cuma dapat menyimpan sebagian ratus pemirsa.

Bangunannya sendiri telah tampak tua & seolah tidak tertangani. Banyak cat-cat yang telah terkelupas & besi-besi yang ada di tribun pemirsa mulai karatan.

Keadaan rumput lapangan juga tak lumayan bagus lantaran sangat tidak tipis yang riskan menjadikan beberapa pemain cedera. Hal semacam itu yang dikeluhkan Riedl waktu menjajal Stadion Hang Day pd harga besi terbaru.

Hanya satu yang terhitung moderen dari Stadion Hang Day merupakan papan score elektronik yang terpasang dibagian selatan. Diluar itu, Stadion Hang Day terdapat pas di pusat kota Hanoi.

Thursday, August 20, 2015

Kenapa Cagar Budaya di Semarang Sulit Dilindungi?

Disangka berniat dirobohkan, bangunan bersejarah sisa kantor redaksi surat berita De Locomotief, yang terbit pertama kalinya pd 1851, & di kenal juga sebagai pendukung politik Etis, alami rusaknya kronis.


Mendekati siang di pojok Jalan Kepodang, Semarang, raungan sepeda motor bercampur aduk bersama aroma makanan kaki lima. Tampak juga sebagian pria bersama ayam aduannya.

Tak jauh dari situ berdiri suatu gedung tua bersama keadaan merana & terlebih hampir hancur.

Saat sebelum dikonservasi, gedung sisa kantor Sarekat islam di Semarang ini kondisinya memprihantikan. Kesuksesan ini tak lepas dari kampanye terus-terusan oleh orang-orang perduli histori di kota itu.

Gedung sisa kantor Sarekat Islam di Kampung Gendong, Kelurahan Sarirejo, Semarang, sesudah direnovasi. Awal mulanya gedung bersejarah ini kondisinya menyedihkan. Mulai sejak Februari 2014, gedung ini jadikan cagar budaya.

Terakhir di ketahui bangunan merana itu merupakan sisa kantor redaksi surat berita De Locomotief, yang terbit pertama kalinya pd 1851, & di kenal juga sebagai pendukung politik Etis.

" Saya tidak mengerti, ada suatu bangunan yang mempunyai nilai histori yang sangatlah cukup tinggi, seperti De Locomotief, itu dapat terlupakan, " kata Rukardi, pimpinan Komune pegiat histori, KPS, Semarang, pada wartawan di Semarang, Nonie Arnee.

Menurut Rukardi, kehadiran bangunan bersejarah ini tak terdaftar dalam buku Semarai bangunan & lokasi pusaka budaya kota Semarang (2006) yang diterbitkan pemerintah kota Semarang & Kampus Diponegoro.

Buku ini berisi kira-kira 300-an bangunan yang butuh dikaji untuk diputuskan jadi cagar budaya, kata Rukardi.

" Terlebih telah lewat sistem riset, akan tetapi faktual nyatanya ada kekeliruan, hingga bangunan itu tak terdaftar juga sebagai bangunan cagar budaya, " tuturnya.

Rukardi & beberapa orang yang perduli pada bangunan cagar budaya sudah melaporkan permasalahan ini pada Balai pelestarian cagar budaya setempat untuk ditindaklanjuti.

Nasib Market Terongan

Bagaimanapun, keadaan merana yang dihadapi bangunan De Locomotief menaikkan daftar panjang bangunan tua bersejarah yang rusak atau dilewatkan terlantar di Semarang.

Orang-orang pencinta histori di kota itu masih tetap ingat saat Market Terongan, yang di bangun pd 1916, beberapa bangunannya sudah dibongkar, Juli 2015 lantas.

Permasalahan pembongkaran Market Terongan sudah dilaporkan ke Wali Kota Semarang, & lalu pembongkaran itu untuk sesaat dihentikan, menyusul ada riset paling akhir yang mengukuhkan bahwa bangunan market itu termasuk juga bangunan cagar budaya

Orang-orang pencinta histori di Semarang protes pembongkaran Market Peterongan, yang di bangun pd 1916. Dijelaskan market ini memakai konstruksi beton yang pertama untuk bangunan market di Semarang.

Permasalahan ini sudah dilaporkan ke Wali Kota Semarang, & lalu pembongkaran itu untuk sesaat dihentikan, menyusul ada riset paling akhir yang mengukuhkan bahwa bangunan market itu termasuk juga bangunan cagar budaya.

Anggota Tubuh pengelola lokasi kota lama Semarang, Albertus Kriswandhono, yang di beri tanggung jawab merampungkan permasalahan ini, menginginkan ada kompromi pada kebutuhan histori & keperluan untuk melakukan perbaikan market itu.

Selama ini pedagang market diletakkan ditempat lain sepanjang masalah ini belum dituntaskan, akan tetapi menurut Kriswandhono hal semacam ini tak dapat dilewatkan berlarut-larut.

" Lantaran ujung dari sistem ini merupakan saat cagar budaya ini tak dapat menyejahterakan orang-orangnya, tidak usah ngomong masalah cagar budaya, " kata Albertus Kriswandhono.

Bersama kata lain, " segala bisa porsinya semasing. Orang-orang histori berperan memberi histori, akan tetapi saat histori ini menyebabkan cuma memikirkan satu matra saja yakni perihal histori, ya, yang lain tak dapat jalan, " tuturnya.

Akan tetapi, menurut dia, mungkin suatu saat salah-satu pilihan jalan keluarnya merupakan sediakan tempat baru untuk pembangunan market baru.

Cerita berhasil Sobokartti

Beberapa anak muda tengah latihan tari tradisional di Sasana Sobokartti, suatu bangunan cagar budaya di Semarang, yang dibangun pd 1929.

Kehadiran Sobokartti tersebut kesibukan di dalamnya merupakan misal berhasil suatu pelestarian bangunan kuno bersejarah.

Tjahjono Raharjo, ketua paguyuban Sobokartti sekalian dosen arsitektur di suatu perguruan cukup tinggi swasta, menyampaikan usaha konservasi gedung mesti berkompromi bersama tuntutan zaman.

Anak-anak muda berlatih tari didalam bangunan cagar budaya Sobokartti di Kota Semarang. Mulai sejak 1992, gedung ini sudah diputuskan juga sebagai bangunan bersejarah yang perlu dilindungi. Beberapa pemerhati histori menilainya, kesibukan kesenian didalam bangunan ini menjadikan Sobokartti selalu tertangani.

Tjahjono Raharjo, ketua paguyuban Sobokartti sekalian dosen arsitektur di suatu perguruan cukup tinggi swasta, menyampaikan usaha konservasi gedung mesti berkompromi bersama tuntutan zaman.

" Kami mesti sesuaikan bersama keadaan saat ini. Umpamanya, saat ini bila pertunjukan memerlukan lighting (lampu) yang bagus, ya suatu saat kami mesti nambah, " kata Tjahjono berikan misal.

Dia menyampaikan, menambahkan sarana seperti itu tak menyalahi aturan konservasi.

Di Semarang, pun berdiri Galeri seni kontemporer Semarang di Jalan Srigunting, yang disebut hasil konservasi gedung cagar budaya.

Ruang dalam " Galeri Semarang ", salah satu sisi dari gedung tua yang sudah konservasi pd 2007 lantas. Gedung yang di bangun pd 1918 ini pernah dihuni juga sebagai kantor asuransi punya konglomerat Oei Tiong Ham & selesai jadi pabrik sirop sampai 1998. Arsitek Chris Darmawan lalu menyulapnya jadi ruangan pamer seni pd 2008 lantas.

" Itu boleh-boleh saja, tidak tidak mematuhi. Saat ini bila mesti mempunyai kamar mandi yang representatif, umpamanya bersama ganti WC jongkok, ya tidak apa-apa. "

Di Semarang, pun berdiri galeri seni kontemporer Semarang di Jalan Srigunting, yang disebut hasil konservasi gedung cagar budaya. Pemiliknya, Chris Darmawan menuturkan, bagaimanakah dia lakukan konservasi :

" Sembari mengkonservasi, saya menggunakan bangunan ini menurut fungsinya yang baru. Maksudnya sukses dua-duanya. Dari sisi bangunan, kita menyelamatkannya, akan tetapi bersama menjadikan bangunan ini hidup bersama berikan manfaat yang baru, " terang Chris Darmawan.

Disulap jadi galeri seni pd 2008, gedung tua ini di bangun pd 1918. Bangunan ini pernah dihuni juga sebagai kantor asuransi punya konglomerat Oei Tiong Ham & selesai jadi pabrik sirop sampai 1998.

Minta dicabut status cagar budaya

Seperti yang dihadapi gedung De Locomotief, beberapa gedung cagar budaya punya per orangan di lokasi kota tua Semarang banyak terlantar, lantaran pemiliknya dihadapkan masalah dana.

Disulap jadi suatu kafe, inilah bentuk sisi dalam dari gedung kuno peninggalan akhir era ke-18. Beberapa pemerhati bangunan cagar budaya menyampaikan, usaha konservasi gedung kuno mesti berkompromi bersama tuntutan zaman, termasuk juga memperhitungkan segi ekonomi supaya bangunan itu dapat didayagunakan.

Gedung Marba telah didokumentasikan juga sebagai bangunan cagar budaya. Bangunan ini adalah gaya arsitektur transisi, dari Indische Empire ke arsitekrur Kolonial moderen. Gedung ini dipercaya dibangun pd 1894 oleh keluarga asal Yaman, Martha Bajunet.

Tjahjono Raharjo, ketua paguyuban Sasana Sobokartti sekalian dosen arsitektur di suatu perguruan cukup tinggi swasta, menyampaikan beberapa yang memiliki gedung tua bersejarah di kota lama Semarang, mengakui kesusahan untuk menjaga bangunan kepunyaannya.

" Ada orang yang keberatan bila bangunannya diputuskan juga sebagai cagar budaya. Terlebih ada yang pernah minta status juga sebagai cagar budaya itu dihapus, " kata Tjahjono.

Salah-satu gedung cagar budaya di lokasi kota lama Semarang sudah dikonservasi & digunakan jadi restoran.

Gedung kuno yang awal mulanya tak tertangani lalu direstorasi oleh pemiliknya. Saat ini bangunan yang terdapat di lokasi kota lama Semarang ini jadi cafe Spiegel.

Dia meneruskan, yang memiliki gedung tua bersejarah itu lalu mencontohkan dilema yang dihadapi, intinya kalau dia wafat dunia.

" Umpamanya saya wafat, pakar waris saya mau membagi harta warisannya, salah satunya rumah itu. Nah, status cagar budaya itu menyusahkan, lantaran bangunan itu tidak bisa di jual, sesaat ahli-ahli waris itu 'kan tak seluruhnya orang dapat. Dia perlu duit itu, " katanya.

Disebabkan kekurangan dana, menurut pimpinan Komune Pegiat Histori (KPS) Semarang, Rukardi, ada beberapa yang memiliki menelantarkan gedung kuno bersejarah.

" Mendiamkan bangunan itu bersama harapan bangunan itu rubuh bersama sendirinya & lalu mereka dapat bangun bangunan baru di atasnya, " kata Rukardi.

Di sinilah nampak inspirasi supaya pemerintah Kota Semarang memberi sejenis insentif pada yang memiliki gedung-gedung kuno hingga bisa memudahkan mereka.

" Harusnya bukan sekedar dibebaskan dari pajak, akan tetapi pun memperoleh insentif, " tutur Rukardi.

Perbaiki infrastruktur

Sekretaris Dinas Tata Kota & Permukiman Kota Semarang, Irwansyah, tengah menggodok beberapa jalan keluar untuk merampungkan masalah masalah dana itu.

Gedung Lawang Sewu, salah-satu ikon utama Kota Semarang. Gedung ini, dulunya adalah kantor Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau Maskapai Kereta Api Hindia Belanda, di bangun pd thn 1904 & usai pd thn 1907.

Gereja Blenduk Semarang, di bangun pd 1753, merupakan salah satu bangunan utama di lokasi kota lama Semarang. Direnovasi pd 1894 oleh W. Westmaas & H. P. A. de Wilde, bersama memberikan dua menara. Nama Blenduk adalah julukan orang-orang setempat yang mengacu pd gaya kubah.

" Suatu saat ada insentif & disinsentif. PBB (Pajak bumi & bangunan) pun tengah kita usahakan buat mereka memperoleh kemudahan. Mungkin saja bila itu dipakai untuk usaha, suatu saat ada kemudahan pajak, " kata Irwansyah waktu dihubungi wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, lewat saluran telephone.

" Yang telah kita kerjakan, pemerintah kota menolong merecording documenting semasing bangunan cagar budaya, selalu kita dapat mengarahkan kurang lebih apa yang dapat dikerjakan pada bangunan ini, " katanya.

Taman Srigunting merupakan salah satu landmark di Lokasi kota lama Semarang. Di saat kolonial, taman ini dimaksud parade plein lantaran dipakai juga sebagai tempat parade. Direnovasi sekian kali, Taman Srigunting saat ini dipakai untuk beragam kesibukan orang-orang setempat.

Beberapa bangunan yang telah didokumentasikan & dikaji salah satunya merupakan Gedung Marba, bangunan market Johar, Market Jatingaleh, Restoran Ikan bakar Cianjur, Hotel Dibya Puri, dan Hotel Candi Baru.

Namun arsitek & pegiat pelestarian bangunan cagar budaya, Albertus Kriswandhono menyampaikan, langkah utama yang perlu dikerjakan pemerintah kota Semarang merupakan melakukan perbaikan infrastruktur :

Info resmi mengatakan di Semarang ada 103 bangunan cagar budaya yang sudah diputuskan pd awal 1990-an. Akan tetapi, riset paling akhir tunjukkan ada 300-an bangunan yang butuh dikaji untuk diputuskan jadi cagar budaya.

" Jalan, lampu, listrik, air, itu saja yang Anda perbaiki, tak banjir, tak rob, selokannya jalan lancar, itu saja yang diperbaiki, Nah, untuk bekerja disana, ada ketentuannya, bertanyalah pada tubuh pengelola ini, " kata Albertus Kriswandhono.

Info resmi mengatakan di Semarang ada 103 bangunan cagar budaya yang sudah diputuskan pd awal 1990-an. Akan tetapi, riset paling akhir tunjukkan ada 300-an bangunan yang butuh dikaji untuk diputuskan jadi cagar budaya.

Beberapa pencinta histori di Semarang meminta supaya pemerintah Kota Semarang & otoritas berkenaan selalu memperbaharui sistem dokumentasi & pengkajian hingga bisa mencari & menyelamatkan bangunan-bangunan kuno bersejarah.

Beberapa pencinta histori di Semarang meminta supaya pemerintah Kota Semarang & otoritas berkenaan selalu memperbaharui sistem dokumentasi & pengkajian hingga bisa mencari & menyelamatkan bangunan-bangunan kuno bersejarah.